Rabu, 07 Mei 2014

Fuyul Sojol

Fuyul Sojol dalam kenanganku

        Masih melekat dalam ingatan saya, pada pertengahan Tahun 2012 silam, Pegunungan Ogoamas yang terhampar dari sisi barat kabupaten donggala hingga bagian timur Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah menjadi tempat kami melakukan kegiatan Operasi XXV Korpala Unhas. Kegiatan ini merupakan rangkaian prosesi kaderisasi di Korps Pencinta Alam Universitas Hasanuddin yang saya geluti.

         Dengan berbekal pengetahuan perjalanan alam terbuka kemudian ditunjang dengan kesiapan fisik dan mental yang baik, merupakan modal awal kami dalam melakukan Operasi kali ini. Tanggal 12 Juli 2012, tim kami meninggalkan makassar menuju entri poin kegiatan yakni Desa Balukkang, kec Sojol, Kab Donggala. Banyaknya kendala terhadap Bus tumpangan kami, mengakibatkan perjalanan memakan waktu menjadi 3 hari lamanya.  
Bus tumpangan kami, yang kadang-kadang mogok,,,
Setelah melalui perjalanan panjang dari Kota Makassar akhirnya kami pun sampai pada tujuan kami, ± Pukul 16.25 Wita, Tanggal 15 Juli 2012.Dua belas hari waktu yang digunakan oleh tim kami didalam melakukan Operasi Fuyul Sojol XXV Korpala Unhas sejak tanggal 16 Juli hingga 27 Juli 2012. Tim yang terdiri dari 11 orang memulai pendakian dari Dusun Bonde, Desa Balukkang, Kec Sojol Kab Donggala, menjangkau Puncak Sojol (2888 mtr dpl, sesuai pembacaan di GPS yang menyertai tim kami) dalam delapan hari. Selanjutnya empat hari kemudian tim kami sampai di Dusun Tiga Desa Sibolae Kec Tinombo, Kab Parigi Moutong di sisi Timur pegunungan Ogoamas.
Foto Bersama dengan Sekertasi Desa Balukkang, sebelum tim memulai pendakian.
Selama kami menelusuri Hutan belantara pegunungan Ogoamas, Kami menemukan beberapa flora dan Fauna yang unik juga menarik dan belum pernah kami jumpai sebelumnya. Misalnya talas, pohon padan dengan ukuran raksasa. Juga ada rotan dengan duri-duri seukuran victorynox. Di bagian lain ada juga hewan seperti Semut, Nyamuk, Pacet yang berukuran raksasa kemudian juga kami menemukan Katak berukuran kecil ± 1 cm panjangnya, dengan warna yang sangat mencolok. 
Saat bernavigasi
kondisi medan yang ekstrim, hempasan parang menebas rimbunya rotan yang menghalangi jalur pendakian.
Foto bersama dipuncak fuyul sojol.
       Salah satu obyek yang begitu menarik dalam kegiatan ini adalah keberadaan suku Lauje yang mendiami pegunungan Ogoamas ini. Secara umum suku ini terbagi menjadi dua, yaitu suku Lauje Atas dan Bawah.
        Suku Lauje Bawah sudah banyak berinteraksi dengan kehidupan yang lebih maju di kaki gunung. Bertani dan berkebun yang mereka dapati melalui bimbingan penyuluh lapangan departemen pertanian. Sementara suku Lauje Atas masih cenderung hidup dengan pola yang lebih primitif dan nomaden. Berburu menjadi aktifitas utama mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup disamping mencari umbi-umbian. 
Rumah suku lauje, yang sudah tidak ditempati
     Teriakan au.. au.. au.. menyambut kedatangan tim kami ketika memasuki kampung suku Lauje. Kemudian yang menjadi kendala kami adalah  saat mengetahui masyarakat dari suku tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia. Akhirnya bahasa isyarat menjadi andalan komunikasi kami selama berinteraksi dengan mereka.

    Gubuk yang digunakan oleh suku Lauje Atas juga tersebar di wilayah atas Pegunungan Ogoamas, dimanfaatkan bersama oleh masyarakatnya. Gubuk-gubuk yang lebih kecil menjadi 'rumah singgah' bagi mereka yang harus bermalam di sepanjang rute perburuannya. Sumpit dan parang adalah perlengkapan utama di dalam aktifitas mereka, sebagai penunjang kegiatan berburu. Mata sumpit yang telah dilumuri racun, diambil dari jenis tumbuhan tertentu, mampu menjangkau hewan buruannya hingga jarak 20 meter. Bisa yang cukup kuat mampu melumpuhkan buruan hingga tewas dalam waktu singkat.

       Dalam perjalanan pulang, kami mendapat kehormatan diantar oleh dua warga suku Lauje, hingga ke kampung Sibolae. Sang pengantar merupakan suku Luaje Atas, yang menarik, rupanya mereka belum mengenal cara membersihkan diri dengan cara mandi. Kedengarannya aneh, tetapi begitulah adanya. Di kulit mereka menempel kerak-kerak kotoran menjadi daki yang begitu tebal.  mengajari mereka bagaimana mandi di sungai, menggunakan sabun dan shampo.

      Faktor lain yang mempengaruhi kegiatan ini berbeda dengan kegiatan lainnya, ialah pelaksanaan kegiatan bertepatan dengan Puasa di Bulan Ramadhan 1433 H, Melakukan perjalanan sambil menunaikan Ibadah Puasa menjadikan sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Sesampai di Desa Sibolae, tim beruntung karena di tempat ini ada mesjid. Berbuka puasa menjadi terasa begitu mewah dan istimewa bagi kami. Terutama ketika Fadli Isra Saite didaulat untuk memberikan ceramah taraweh dimasjid..
        Keesokan harinya ± Pukul 08.00 Wita, tanggal 28 Juli 2012 kami melanjutkan perjalanan menuju kota Palu kemudian langsung menuju Kota Makassar, akhirnya Tim kami tiba kembali di mabes Korpala Unhas 29 Juli 2012 pukul 19.00 wita. Sebait kisah baru telah menambah rangkaian panjang kesaksian hidup kami. Terima kasih Ya Allah, Terima Kasih Korpala Unhas "Survive With Korpala"!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar