Senin, 05 Mei 2014

Bantimala


RIJANG RADIOLARIA BANTIMALA MENGACAUKAN “OCEANIC PLATE STRATIGRAPHY”

Artikel ini saya ambil dari Artikel pak Awan satyana, beliau merupakan salah satu ahli geologi yag sangat giat melakukan penelitian, saat ini beliau bekerja diSKK Migas.. 

Berbeda dengan singkapan-singkapan rijang radiolaria seumur di tempat-tempat lain di Indonesia (Ciletuh –Suhaeli et al, 1977; Luk Ulo – Wakita et al, 1994; Meratus – Wakita et al, 1998), singkapan rijang radiolaria di Bantimala, Sulawesi Selatan sangat enigmatik, penuh teka-teki. 

Sebagai hewan renik bercangkang silika, radiolaria tahan tidak lebur pada kedalaman laut lebih dari 4000 meter. Pada kedalaman itu, cangkang-cangkang foraminifera yang terbuat dari karbonat sudah lebur. Maka semua lantai samudera di dunia pada kedalaman lebih dari 4000 m saat ini tertutup cangkang-cangkang radiolaria, menjadi lumpur yang tersusun oleh cangkang-cangkang radiolaria sangat renik, umum disebut radiolarian ooze, lumpur/selut radiolaria. 

Lumpur radiolaria ini menutupi lava basal yang biasanya berbentuk bantal yang dimunculkan ke permukaan dasar samudera di retakan tengah samudera. Di bagian tengah semua samudera, ada retakan yang begitu panjang dan besar tempat lempeng-lempeng samudera saling bergerak menjauh. Di retakan tengah samudera itulah lava-lava basal dikeluarkan, berasal dari mantel Bumi bagian atas.
Zaman dulu, jutaan tahun yang lalu pun begitu sebab proses-proses geologi itu dominan tetap selama milyaran tahun pun. Maka, susunan lumpur radiolaria dan lava basal membantal itu telah membatu menjadi batuan yang disebut rijang radiolaria (radiolarian chert) yang selalu terletak di atas lava bantal berkomposisi basal.

Oleh proses tektonik lempeng, rijang radiolaria dan lava bantal asal kedalaman lebih dari 4000 meter itu selama jutaan tahun berikutnya mendekati benua, daratan, dan akhirnya berbenturan. Karena lebih berat, lempeng samudera dengan penyusun bagian paling atasnya rijang radiolaria dan lava bantal itu ditekuk atau menunjam (subduksi) ke bawah benua. Wilayah penekukan lempeng samudera itu disebut palung. 


Kemudian oleh proses geologi dan tektonik yang sangat rumit, sebagian massa lempeng samudera dan benua tercabik-cabik, dicabut dari asalnya, dan dipindahkan ke tempatnya yang baru di tepi benua, begitu juga lapisan paling atas lempeng samudera yang disusun oleh rijang radiolaria dan lava bantal.

Maka bila sekarang para ahli geologi menemukan lava bantal dan rijang radiolaria di daratan, tahulah mereka bahwa tempat-tempat tersebut dulunya merupakan palung. Palung umur kapan, umur batuan-batuan yang dikandungnya. Tempat-tempat seperti itu adalah Ciletuh (Sukabumi Selatan), Luk Ulo/Karangsambung (Kebumen Utara), Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan), dan Bantimala-Barru (Sulawesi Selatan). 

Saya kali ini hanya bercerita tentang lava bantal dan rijang radiolaria. Tentu bukan itu saja batuan-batuan yang ada di palung-palung purba ini, tetapi begitu banyak batuan dari berbagai tempat yang berkumpul di satu tempat. Palung adalah wilayah pertemuan antarlempeng, maka wajar geologinya sangat bervariasi, dari berbagai asal yang saling bertemu, sangat rumit namun sangat menarik.

Maka tak mengherankan mengapa banyak ahli geologi yang pergi ke tempat-tempat ini, baik untuk menelitinya termasuk menjadikannya sebagai bahan disertasi doktor. Tempat-tempat seperti ini pun menjadi tempat buat pendidikan mahasiswa geologi. Ciletuh dan Pegunungan Meratus tidak/belum dijadikan tempat pendidikan mahasiswa karena aksesnya yang cukup sulit.

Saya tidak memasukkan Bayat atau Pegunungan Jiwo di Klaten, Jawa Tengah sebagai palung purba terusan Luk Ulo karena kurang buktinya sebagai palung (telah saya tulis dalam beberapa artikel di FB).

------------------------
Kembali kepada rijang radiolaria Bantimala. Maka berdasarkan teori tektonik lempeng, rijang radiolaria harus terletak di atas lava bantal, atau kalau lava bantalnya tidak tersingkap, rijang ini terletak di atas batuan ofiolit yang lain, misalnya diabas, gabro, atau peridotit. Mengapa harus begitu, karena begitulah susunan batuan lempeng samudera. Paling atas akan rijang radiolaria, yang sering berasosiasi dengan batugamping merah atau serpih silikaan (semuanya menunjukkan endapan laut dalam), yang duduk di atas kerak dan mantel bagian atas di bawah samudera yang berturut-turut dari atas ke bawah disusun oleh: lava basal membantal, retas intrusif diabas/dolerit, gabro berlapis, gabro kumulatif, dan paling bawah peridotit. Susunan ini tentu bisa tak lengkap, tetapi urutan stratigrafinya dari atas ke bawah harus begitu. Inilah yang disebut Oceanic Plate Stratigraphy (OPS). Paling atas akan rijang radiolaria, paling bawah akan peridotit.

NAMUN, rijang radiolaria Bantimala lain dari yang lain. Di kawasan ini rijang radiolaria berlapis-lapis dengan batupasir asal tepi benua, dan di dalam batupasir itu terdapat pula rombakan-rombakan batuan metamorf sekis mika. Bagaimana mungkin rijang di laut dalam yang jauh di tengah samudera bisa terjadi berlapis-lapis dengan batupasir berbutir relatif kasar yang sebagian materinya disusun oleh sekis mika. Di tempat sekitarnya ditemukan pula sekis yang terbresksiasi. Di tempat sekitarnya juga ditemukan sekis biru dan eklogit, dua batuan metamorf bertekanan tinggi-sangat tinggi dengan protolith didominasi asal kerak samudera (Maulana, 2013), yang terjadi di palung. Di tempat sekitarnya juga ditemukan batupasir Jurassic Paremba yang menunjukkan struktur sedimen current ripple dan convolute (bagaimana di suatu palung purba ada struktur sedimen seperti ini?)

Di tempat-tempat ini, dari urutan umurnya berturut-turut dari tua ke muda adalah batuan-batuan: batupasir Jurassic Paremba, peridotit terserpentinisasi, ekologit dan sekis biru, breksi sekis, rijang radiolaria yang berselingan dengan batupasir asal benua. Tak ditemukan rijang radiolaria masif yang duduk di atas lava bantal seperti ditemukan di Luk Ulo.

Rijang radiolaria Bantimala ini mengacaukan susunan stratigrafi lempeng samudera. Karena begitu uniknya, masalah ini telah diketahui sejak Sukamto (1978), termasuk pelopor penelitian modern geologi Sulawesi Selatan, menyebutnya sebagai “unusual unconformity”. Meskipun sangat rumit, sangat menarik sebab rijang ini menunjukkan sesuatu tentang tektonik Sulawesi Selatan yang lain daripada yang lain pada umur Kapur. Sebuah rekonstruksi tektonik tepi timur Sundaland harus disusun lagi dengan ramuan-ramuan: unusual stratigraphy of radiolarian chert, fasies metamorfik eklogit dan sekis biru, ultramafic rocks, dan Jurassic Paremba sandstones.

Kunci-kunci tektonik regional tersimpan dalam karakter detail batuan. 
READ THE ROCKS, THEY HOLD THE CLUES!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar