RIJANG RADIOLARIA BANTIMALA MENGACAUKAN “OCEANIC PLATE STRATIGRAPHY”
Artikel ini saya ambil dari Artikel pak Awan satyana, beliau merupakan salah satu ahli geologi yag sangat giat melakukan penelitian, saat ini beliau bekerja diSKK Migas..
Berbeda dengan singkapan-singkapan rijang radiolaria seumur di
tempat-tempat lain di Indonesia (Ciletuh –Suhaeli et al, 1977; Luk Ulo –
Wakita et al, 1994; Meratus – Wakita et al, 1998), singkapan rijang
radiolaria di Bantimala, Sulawesi Selatan sangat enigmatik, penuh
teka-teki.
Sebagai hewan renik bercangkang silika, radiolaria
tahan tidak lebur pada kedalaman laut lebih dari 4000 meter. Pada
kedalaman itu, cangkang-cangkang foraminifera yang terbuat dari karbonat
sudah lebur. Maka semua lantai samudera di dunia pada kedalaman lebih
dari 4000 m saat ini tertutup cangkang-cangkang radiolaria, menjadi
lumpur yang tersusun oleh cangkang-cangkang radiolaria sangat renik,
umum disebut radiolarian ooze, lumpur/selut radiolaria.
Lumpur
radiolaria ini menutupi lava basal yang biasanya berbentuk bantal yang
dimunculkan ke permukaan dasar samudera di retakan tengah samudera. Di
bagian tengah semua samudera, ada retakan yang begitu panjang dan besar
tempat lempeng-lempeng samudera saling bergerak menjauh. Di retakan
tengah samudera itulah lava-lava basal dikeluarkan, berasal dari mantel
Bumi bagian atas.
Zaman dulu, jutaan tahun yang lalu pun begitu
sebab proses-proses geologi itu dominan tetap selama milyaran tahun pun.
Maka, susunan lumpur radiolaria dan lava basal membantal itu telah
membatu menjadi batuan yang disebut rijang radiolaria (radiolarian
chert) yang selalu terletak di atas lava bantal berkomposisi basal.
Oleh
proses tektonik lempeng, rijang radiolaria dan lava bantal asal
kedalaman lebih dari 4000 meter itu selama jutaan tahun berikutnya
mendekati benua, daratan, dan akhirnya berbenturan. Karena lebih berat,
lempeng samudera dengan penyusun bagian paling atasnya rijang radiolaria
dan lava bantal itu ditekuk atau menunjam (subduksi) ke bawah benua.
Wilayah penekukan lempeng samudera itu disebut palung.
Kemudian oleh proses geologi dan tektonik yang sangat rumit, sebagian
massa lempeng samudera dan benua tercabik-cabik, dicabut dari asalnya,
dan dipindahkan ke tempatnya yang baru di tepi benua, begitu juga
lapisan paling atas lempeng samudera yang disusun oleh rijang radiolaria
dan lava bantal.
Maka bila sekarang para ahli geologi
menemukan lava bantal dan rijang radiolaria di daratan, tahulah mereka
bahwa tempat-tempat tersebut dulunya merupakan palung. Palung umur
kapan, umur batuan-batuan yang dikandungnya. Tempat-tempat seperti itu
adalah Ciletuh (Sukabumi Selatan), Luk Ulo/Karangsambung (Kebumen
Utara), Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan), dan Bantimala-Barru
(Sulawesi Selatan).
Saya kali ini hanya bercerita tentang lava
bantal dan rijang radiolaria. Tentu bukan itu saja batuan-batuan yang
ada di palung-palung purba ini, tetapi begitu banyak batuan dari
berbagai tempat yang berkumpul di satu tempat. Palung adalah wilayah
pertemuan antarlempeng, maka wajar geologinya sangat bervariasi, dari
berbagai asal yang saling bertemu, sangat rumit namun sangat menarik.
Maka tak mengherankan mengapa banyak ahli geologi yang pergi ke
tempat-tempat ini, baik untuk menelitinya termasuk menjadikannya sebagai
bahan disertasi doktor. Tempat-tempat seperti ini pun menjadi tempat
buat pendidikan mahasiswa geologi. Ciletuh dan Pegunungan Meratus
tidak/belum dijadikan tempat pendidikan mahasiswa karena aksesnya yang
cukup sulit.
Saya tidak memasukkan Bayat atau Pegunungan Jiwo
di Klaten, Jawa Tengah sebagai palung purba terusan Luk Ulo karena
kurang buktinya sebagai palung (telah saya tulis dalam beberapa artikel
di FB).
------------------------
Kembali kepada rijang
radiolaria Bantimala. Maka berdasarkan teori tektonik lempeng, rijang
radiolaria harus terletak di atas lava bantal, atau kalau lava bantalnya
tidak tersingkap, rijang ini terletak di atas batuan ofiolit yang lain,
misalnya diabas, gabro, atau peridotit. Mengapa harus begitu, karena
begitulah susunan batuan lempeng samudera. Paling atas akan rijang
radiolaria, yang sering berasosiasi dengan batugamping merah atau serpih
silikaan (semuanya menunjukkan endapan laut dalam), yang duduk di atas
kerak dan mantel bagian atas di bawah samudera yang berturut-turut dari
atas ke bawah disusun oleh: lava basal membantal, retas intrusif
diabas/dolerit, gabro berlapis, gabro kumulatif, dan paling bawah
peridotit. Susunan ini tentu bisa tak lengkap, tetapi urutan
stratigrafinya dari atas ke bawah harus begitu. Inilah yang disebut
Oceanic Plate Stratigraphy (OPS). Paling atas akan rijang radiolaria,
paling bawah akan peridotit.
NAMUN, rijang radiolaria Bantimala
lain dari yang lain. Di kawasan ini rijang radiolaria berlapis-lapis
dengan batupasir asal tepi benua, dan di dalam batupasir itu terdapat
pula rombakan-rombakan batuan metamorf sekis mika. Bagaimana mungkin
rijang di laut dalam yang jauh di tengah samudera bisa terjadi
berlapis-lapis dengan batupasir berbutir relatif kasar yang sebagian
materinya disusun oleh sekis mika. Di tempat sekitarnya ditemukan pula
sekis yang terbresksiasi. Di tempat sekitarnya juga ditemukan sekis biru
dan eklogit, dua batuan metamorf bertekanan tinggi-sangat tinggi dengan
protolith didominasi asal kerak samudera (Maulana, 2013), yang terjadi
di palung. Di tempat sekitarnya juga ditemukan batupasir Jurassic
Paremba yang menunjukkan struktur sedimen current ripple dan convolute
(bagaimana di suatu palung purba ada struktur sedimen seperti ini?)
Di tempat-tempat ini, dari urutan umurnya berturut-turut dari tua ke
muda adalah batuan-batuan: batupasir Jurassic Paremba, peridotit
terserpentinisasi, ekologit dan sekis biru, breksi sekis, rijang
radiolaria yang berselingan dengan batupasir asal benua. Tak ditemukan
rijang radiolaria masif yang duduk di atas lava bantal seperti ditemukan
di Luk Ulo.
Rijang radiolaria Bantimala ini mengacaukan
susunan stratigrafi lempeng samudera. Karena begitu uniknya, masalah ini
telah diketahui sejak Sukamto (1978), termasuk pelopor penelitian
modern geologi Sulawesi Selatan, menyebutnya sebagai “unusual
unconformity”. Meskipun sangat rumit, sangat menarik sebab rijang ini
menunjukkan sesuatu tentang tektonik Sulawesi Selatan yang lain daripada
yang lain pada umur Kapur. Sebuah rekonstruksi tektonik tepi timur
Sundaland harus disusun lagi dengan ramuan-ramuan: unusual stratigraphy
of radiolarian chert, fasies metamorfik eklogit dan sekis biru,
ultramafic rocks, dan Jurassic Paremba sandstones.
Kunci-kunci tektonik regional tersimpan dalam karakter detail batuan.
READ THE ROCKS, THEY HOLD THE CLUES!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar